Minyak Kelapa, Minyak Goreng yang Paling Aman dan
Paling Sehat
oleh
Iwan T. Budiarso
indosiar.com
- Penyakit-penyakit kronik,
degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, tekanan darah tinggi, stroke,
kencing manis, obesitas, kegemukan (over weight) kanker dan sebagainya, sudah
menjadi masalah yang mewabah, baik di negara-negara industri yang maju maupun
negara negara yang sedang berkembang. Dengan demikian, sudah barang tentu ada
faktor-faktor kesamaan yang sangat mendasar daripada penyebabnya (the commom
underlying cause[s]).
Karena itu jika betul-betul mau
menyembuhkan secara tuntas dan total, maka harus dilakukan
penelitian-penelitian yang mendasar yang mengarah untuk mencari apa akar
penyebab dasar utamanya (the basic common underlying cause[s]) yang sebenarnya
dan bukan seperti sekarang yang hanya memusatkan segala tenaga dan pikiran
untuk mencari dan menemukan obat-obat baru yang dianggap lebih berkhasiat dan
efektif namun belum memuaskan, karena masih banyak penyakit yang belum bisa
ditanggulangi. Sebaliknya obat-obat baru yang ditemukan, bukan saja harganya
sudah tidak terjangkau oleh kebanyak orang, malah sering kali menimbulkan efek
samping yang lebih parah daripada sebelumnya.
Malah sebaliknya banyak jenis
penyakit baru yang timbul akibat efek samping daripada obat-obatan yang dipakai
dalam jangka lama. Dari hasil pengamatan ada beberapa hal yang sangat menarik
sekali yang luput mendapat perhatian, bahwa ada beberapa bahan makanan
fugsional utama yang mengandung komponen2 zat bioaktif dan zat2 tambahan bahan
makanan kimiawi yang bersifat toksik dan karcinogenik yang dikonsumsi setiap
hari bisa menjadi biang keladi daripada akar penyebab penyakit2 tersebut.
Sekarang para ahli gizi dan kesehatan di Amerika Serikat sedang heboh mempermasalahkan apakah minyak goreng golongan minyak sayur (seperti kedela, jagung, biji bunga matahari, safflower, biji kapok, canola dan sebagainya) dan bukan minyak kelapa, itu aman dan sehat ?
Sekarang para ahli gizi dan kesehatan di Amerika Serikat sedang heboh mempermasalahkan apakah minyak goreng golongan minyak sayur (seperti kedela, jagung, biji bunga matahari, safflower, biji kapok, canola dan sebagainya) dan bukan minyak kelapa, itu aman dan sehat ?
Menurut hasil berbagai laporan
penelitian, baik pada hewan percobaan maupun pada manusia, yang diberi makan
tambahan dengan asam lemak rantai panjang (long chain fatty acids=LCFA)
terbukti dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit kronik, degeneratif dan
kanker. Minyak sayur setelah dikonsumsi dan atau digoreng akan berubah sifatnya
dan menghasilkan zat2 ikutan bioaktif yang bersifat toksik dan karcinogenik.
Tulisan ini akan menjelaskan secara komprihensif bagaimana mekanismenya sampai
bisa terjadi peristiwa tersebut. Bukankah pencegahan lebih baik daripada
pengobatan ?
Minyak
kelapa (kelentik), seperti dimaklumi sudah digunakan secara turun-menurun dan
terus-menerus selama berabab-abab oleh nenek moyang kita bahkan sampai sekarang
masih tetap digunakan oleh penduduk pedalaman dan pedesaan dimana pohon kelapa
tumbuh subur dan merupakan sumber bahan makanan fungsional utama dan hasil
pertanian mereka. Secara umum status kesehatan mereka sangat bagus, fisiknya
nampak langsing dan kekar, rambutnya tebal, kulitnya berkilau dan indah,
geliginya kuat dan bagus-bagus dan jarang mengalami penderitaan penyakit
kronis, degeneratif dan kanker bila dibandingkan dengan penduduk asli yang sudah
hengkang dari desanya dan beralih profesi serta tinggal di kota 2 besar dan
metropolitan serta beralih juga ke makanan campuran ala Barat.
Itu semua adalah hasil pengamatan
dan penelitian Dr. Weston A. Price, seorang dokter gigi yang ahli peneliti dan
ahli gizi, dari Clevland, Ohio, Amerika Serikat, yang telah membuktikan hal
tersebut dengan melakukan penyidikan dan penelitian secara epidemiologis selama
kurang lebih 8 tahun (1930-1938), pada penduduk masyarakat pedalaman yang
tinggal di deretan pulau-pulau Pasifik yang terbentang mulai dari kepulauan
Hawai terus sampai dengan pulau-pulau yang terletak didekat Selandia Baru.
Penduduk dari pulau-palau ini
mempunyai kebiasan tradisional yang hampir sama yaitu masih mempertahankan
makanan tradisional sebagai makanan fungsional utama (functional tradition
staple foods). Baik dagingnya, santannya dan minyaknya dipergunakan sebagai
bahan adonan utama menu makanan mereka sehari-hari sama seperti zaman
nenek-moyang mereka dengan dicampur taro , akar umbi2an, sayur-sayuran, nasi
dan ikan laut. Ternyata keadaan status kesehatan dan gizi mereka jauh lebih
baik daripada penduduk asli yang sudah pindah ke kota-kota besar.
Hasil penelitian epidemiologis ini
telah dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1938 dengan judul “Nutrition and
Physical Degeneration”. Buku ini sampai sekarang masih tetap dicetak ulang dan
digunakan oleh para peneliti dalam bidang gizi sebagai buku pegangan. Di
Amerika Serikat, minyak kelapa sekarang oleh para pakar ahli gizi dan kesehatan
masyarakat dijuluki sebagai Pohon Kehidupan (The Tree of Life) dan Minyak
Kelapa, disebut sebagai Minyak Goreng Yang Paling Sehat di Muka Bumi (Coconut
Oil The Healthiest Oil on Earth).
Klasifikasi Asam Lemak
Agar
supaya para pembaca menjadi lebih mudah mengerti soal minyak goreng, maka perlu
untuk mengetahui beberapa istilah perminyakan yang akan dipakai untuk
menjelaskan uraian dibawah ini. Apakah bedanya antara lemak dan minyak? Istilah
lemak dan minyak sering kali dipakai secara serabutan. Secara harafiah perbedaan
yang sebenarnya adalah; lemak akan tetap berbentuk padat (solid) pada suhu
kamar; contoh, Lemak hewani, “lard” (gajih), sedangkan minyak akan tetap
berbentuk cair (liquid); contoh, minyak sayur, seperti asal jagung, kedele,
biji bunga matahari, biji kapok, canola dll). Padahal keduanya adalah termasuk
golongan lemak dan dalam istilah ilmu kimia disebut fats (gajih) atau fatty
acids (asam lemak). Lemak jenuh (gajih) adalah trigleserida (triglyceride),
demikian pula lemak tak jenuh (minyak sayur) adalah trigleserida juga. Setiap
molekul trigleserida mengandung 3 molekul asam lemak.
Berdasarkan ada atau tidaknya ikatan
ganda (double bonds) dalam struktur kimiawinya, molekul asam-asam lemak yang
terkandung dalam trigleserida, asal lemak atau minyak dapat dibagi menjadi 3
kelompok; yakni (1) Golongan minyak dengan asam lemak jenuh (saturated fatty
acids), (2) Golongan minyak dengan asam lemak tak Jenuh tunggal
(mono-unsaturated fatty acids) dan (3) Golongan minyak dengan asam lemak tak
jenuh majemuk (Poly-unsaturated fatty acids).
Lihat Gambar 1 dibawah ini:
Gambar 1. Contoh Jenis-jenis Asam Lemak
Saturated Fatty Acid (SFA = Asam Lemak Jenuh)
Gambar 1. Contoh Jenis-jenis Asam Lemak
Saturated Fatty Acid (SFA = Asam Lemak Jenuh)

Asam lemak jenuh, asam laurat
(lauric acid) terdiri dari 12 atom karbon, yang diikat jenuh oleh atom hidrogen
dan tidak ada ikatan ganda. Asam lemak ini tergolong asam lemak rantai sedang
(medium, MCFA) dan banyak ditemukan dalam air susu ibu dan minyak kelapa.

Asam lemak tak jenuh tunggal, asam
oleik (oleic acid) terdiri dari 18 atom karbon di mana 1 pasang karbon atom
diganti oleh satu ikatan ganda dan asam lemak ini tergolong dalam asam lemak
rantai panjang (LCFA) serta kebanyakan ditemukan dalam minyak sayur seperti kedele
dan canola.
Asam lemak tak jenuh ganda, asam
lenoleik (lenoleic acid) terdiri dari 18 atom karbon dengan 2 ikatan ganda
(majemuk) dan tergolong dalam asam lemak rantai panjang (LCFA) serta banyak
ditemukan pada minyak sayur seperti kedele, jagung dan canola.

Perlu diketahui pula, bahwa asam
lemak juga bisa dibedakan berdasarkan panjang rantai atom karbon, dengan
demikian bisa dibagi lagi menjadi 3 kelompok: 1). Golongan minyak dengan asam
lemak rantai karbon pendek (Short Chain Fatty Acids=SCFA), terdiri dari 2-6
atom karbon saja, seperti asam cuka dan asam mentega. 2). Golongan minyak
dengan asam lemak rantai karbon sedang (medium) (Medium Chain Fatty
Acids=MCFA), terdiri dari 8-16 atom karbon, seperti minyak kelapa, minyak sawit
dan minyak palm lihat Gambar 1). dan 3). Golongan minyak dengan asam lemak
rantai karbon panjang (Long Chain Fatty Acids = LCFA), yang terdiri dari 18
atau lebih atom karbon.
Semua jenis minyak sayur yang
sekarang dijual di pasaran adalah tergolong dalam LCFA (lihat Gambar 1).
Perbedaan dalam ketiga jenis golongan asam lemak berantai karbon ini mempunyai
proses pencernaan dan metabolisme didalam tubuh yang berbeda dan menghasilkan
produk-produk komponen zat bioaktif yang sangat berbeda pula. Maka setiap jenis
golongan asam lemak mempunyai dampak fisiologis dan biologis yang sangat
berbeda pula terhadap kesehatan kita.
Tidak Semua Asam Lemak Adalah Sama
Sifatnya
Jenis
asam lemak yang terkandung dalam minyak kelapa, 92% adalah asam lemak golongan
rantai karbon sedang (medium) (medium chain fatty acids=MCFA), yang terdiri
dari hanya 12 atom karbon yang diikat jenuh (tidak ada ikatan ganda), sedangkan
jenis-jenis asam lemak yang terkandung dalam minyak sayur (kedele, jagung, biji
bunga matahari, biji kapok, canola dll), terdiri dari 18 atau lebih atom karbon
dan sebagian besar adalah golongan asam lemak berantai karbon panjang (long
cahian fatty acids= LCFA) dan umumnya mempunyai ikatan ganda (majemuk) (Gambar
1 dan Tabel 1).
Perlu diketahui bahwa minyak kelapa
adalah satu2nya minyak goreng di muka bumi yang mengandung asam laurat (lauric
acid) dengan kadar yang paling tinggi setara seperti pada air susu ibu (kurang
lebih 50%). Asam laurat ini mempunyai khasiat sebagai antibiotik alami yang
ampuh yang dapat membunuh berbagai jenis kuman, virus dan parasit, termasuk HIV
dan Hepatitis virus C (Baca Nirmala edisi Januari 2004). Perlu diketahui pula,
baik minyak kelapa maupun minyak sayur, keduanya sama-sama tidak mengandung
kolesterol.
Alur Proses Pencernaan dan Metabolisme
Asam Lemak (Digestion and Metabolic Pathways of Fatty Acids)
Minyak kelapa yang mengandung 92%
asam lemak rantai medium (MCFA). Setelah dikonsumsi, sesampainya di dalam
saluran cerna, bisa terus diserap melalui dinding usus, tanpa harus melaui proses
hidrolisa dan enzimatika, dan langsung dipasok masuk kedalam aliran darah dan
langsung dibawa ke dalam organ hati untuk dimetabolisir. Di dalam hati minyak
kelapa ini diproses untuk memproduksi energi saja dan digunakan untuk
meningkatkan fungsi semua kelenjar endokrin, organ dan jaringan tubuh.
Sebaliknya minyak sayur (kedele,
jagung, biji bunga matahari, bunga saf, biji kapok, canola dan sebagainya )
karena kandungan asam-asam lemaknya adalah golongan asam lemak rantai panjang
(LCFA), sehingga ukuran molekul asam-asam lemaknya besar-besar, maka perlu
diproses dahulu di dalam saluran cerna sebelum bisa diserap melalui dinding
usus seperti yang terjadi pada minyak kelapa. Asam-asam lemak ini mula-mula
harus diuraikan dahulu menjadi unit asam-asam lemak ukuran kecil dan berbentuk
asam lemak bebas (free fatty acids) melalui proses hidrolisa dan emulsi dengan
bantuan cairan empedu.
Setelah di-emulsikan dengan
sempurna, lalu diuraikan menjadi unit-unit free fatty acids dengan bantuan
enzim2 asal kelenjar pankreas. Setelah terbentuk unit-unit asam lemak bebas
(free fatty acids) baru bisa diserap oleh dinding usus, lalu ditampung di dalam
saluran getah bening (lymphatic lacteal ducts). Uraian unit-unit asam lemak
bebas (free fatty acids) tersebut lalu disusun kembali dan dikemas menjadi
chylomicron atau lipoprotein.
Lipoprotein yang terbentuk inilah
lalu dipasokkan ke dalam aliran darah dan sampai di hati. Lalu di dalam hati
dimetabolisir dan produknya didistribusikan ke seluruh kelenjar endokrin, organ
dan jaringan tubuh sampai habis semuanya dalam bentuk energi, kolesterol dan
sisa lemak ditimbun di jaringan lemak tubuh (adipos-tissue). Demikian pula
semua asupan kolesterol dan asam2 lemak makanan yang baru masuk kedalam tubuh,
akan diproses dengan cara yang sama menjadi lipoprotein lalu didistribusikan ke
seluruh organ dan jaringan tubuh seperti yang sudah diterangkan diatas..Jadi,
semua jenis minyak sayur akan berakhir di dalam tubuh sebagai energi, kolestrol
dan timbunan jaringan lemak, Dan kedua senyawa yang terakhir,yakni kolesterol
dan lemak, inilah yang sering kali menjadi dasar penyebab berbagai jenis
penyakit kronis, degeneratif dan kanker.
Hal lain yang perlu diketahui, kalau
minyak kelapa digunakan untuk menggoreng, struktur kimianya tidak akan berubah
sama sekali, karena 92% jenis asam lemaknya sudah dalam bentuk lemak jenuh
(saturated fatty acids). jadi ia tetap stabil, Sebaliknya semua jenis minyak
sayur kalau dipakai untuk menggoreng, maka ia akan menjadi kental, karena
terjadi proses polimerisasi (penggumpalan), sehingga secara fisik nampak kental
seperti oli mobil.
Disamping itu akan menghasilkan
trans fatty acids dan free radicals yang terkenal bersifat toksik dan
karcinogenik. Gabungan dari Trans fatty acids, free radicals, kelebihan
kolesterol dan timbunan lemak dalam jaringan tubuh inilah yang menjadi dasar
penyebab utama berbagai jenis penyakit kardiovaskuler, tekanan darah tinggi,
stroke, kencing manis, obesitas, over weight, kanker dan sebagainya yang
sekarang sedang melanda dan memwabah di seruluh dunia tanpa menganal batas
umur, gender dan suku!. Selama dasar penyebab yang tertimbun setiap hari dalam
tubuh, tidak disingkirkan, maka cara pengobatan yang hebat dan canggih apa pun
hanya untuk sementara meredam gejala penyakit yang ditimbulkan, tetapi belum
menyembuhkan penyakit-penyakitnya.
Minyak Goreng yang Mana yang Paling
Aman dan Paling Sehat
Hasil
analisa dari berbagai jenis minyak goreng menunjukkan bahwa semua minyak sayur
mengandung asam lemak tak jenuh majemuk rantai panjang (LCFA) dalam kadar
tinggi (22-78%). Minyak safflower menduduki urutan yang paling atas dengan
kadar LCFA 78%, disusul oleh minyak biji matahari (69%), dan setrusnya makin
kebawah urutannya dalam daftar tersebut makin rendah persentasi kadarnya sampai
pada minyak kelapa yang menduduki urutan paling bawah dengan kadar LCFA hanya
2% saja (lihat Tabel 1, balok putih).
Sedangkan persentasi kandungan asam
lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acids=MUSFA) (lihat Tabel1,
balok abu-abu) kadarnya cukup bervariasi dan kadar MUSFA yang paling rendah,
sekali lagi, adalah minyak kelapa (6%), sedangkan minyak jenis lain berkisar
dari 12% ,minyak palm sampai yang paling tinggi pada minyak zaitun (olive oil)
77%. Sedangkan ada minyak goreng yang diiklankan sebagai minyak goreng paling
aman dan sehat dan sedang menjadi favorit oleh para konsumen adalah minyak
canola mengandung 63%. Jikalau kedua jenis asam lemak tak jenuh rantai panjang;
baik yang poli (balok putih) maupun mono (balok abu2), digabungkan menjadi
satu, maka kadar LCFA minyak canola menjadi 93% (31 + 63%), sedangkan minyak
zaitun adalah 86% (9 + 77%) dan minyak kelapa hanya 8% (2 + 6%).
Minyak atau lemak yang mengandung
persentasi asam lemak tak jenuh rantai panjang (LCFA) dengan kadar tinggi,
seperti canola (93%) (Tabel 1) adalah kurang baik untuk kesehatan. Karena bila
untuk menggoreng (deep fried atau dipanaskan), disamping akan mengalami
polimerisasi (penggumpalan), ia juga membentuk “trans fatty acids”. dan “free
radicals” yang bersifat toksik dan karcinogenik. Di dalam alur proses
pencernaan dan dimetabolisme akan menghasilkan energi, kolesterol dan lemak.
Sedangkan minyak kelapa hanya menghasilkan energi. Dengan demikian minyak
kelapa adalah lebih aman terhadap kesehatan dibandingkan semua jenis minyak
goreng!
Undang undang Pelarangan Penggunaan
Trans Fatty Acids
Denmark adalah negara inovator
pertama Eropa yang sudah melaksanakan undang-undang pelarangan penggunaan
minyak dan lemak yang mengandung trans fatty acids hasil buatan industri. Sejak
tanggal 1 Juni 2003, minyak dan lemak yang mengandung lebih dari 2 % trans
fatty acids dilarang dijual untuk konsumsi masyarakat. Larangan ini berlaku
pula untuk semua jenis makanan baik buatan dalam negeri (Denmark) maupun yang
diimpor. Dan sejak tanggal 31 Desember 2003 larangan yang sama juga dikenakan
pada semua produk makanan jadi (olahan).
Foods and Drugs Administration (FDA)
Amerika Serikat telah mengeluarkan maklumat mengenai keharusan mencantumkan
trans fatty acids pada label kemasan makanan dan diharapkan semua pabrik
makanan jadi sudah mentaati peraturan ini sebelum tanggal 1 Januari 2006
(http://www.cfsan.fda.gov/label htmal). Demikian juga Kanada mengharapkan semua
pabrik makanan jadi sudah melaksaankan dalam waktu 3-5 tahun mendatang
tergantung daripada besar volume penjualan dari masing2 pabrik makanan bersangkutan
(http://www.hc-sc.gc.ca/food-aliment/ns-sc/ne-en/labelling-etiquetage/e_nutrition_labelling_and_nutrie.html).
Penutup
Mengapa berbagai macam penyakit
seperti kardiovaskuler, tekenan darah tinggi, stroke, kencing manis, obesitas,
over weight, kanker dsb, yang sekarang sudah mewabah diseluruh dunia dan tidak
mengenal umur, gender dan suku, begitu sulit untuk ditanggulangi oleh hanya
dengan menggunakan berbagai macam obat allopathic (dokter) saja. Maka perlu
diteliti yang diakibatkan oleh makanan fungsional utama yang dikonsumsi setiap
hari. Selama penyebabnya (kausanya) tidak disingkirkan, maka penyakitnya tidak
bisa disembuhkan (Drugs Do Not Cure Disease 1999, dan Free Radicals Invite
death, 1997, Yokie Newa M.D ,Ph. D,).
Dengan uraian diatas, sekarang menjadi
jelas sekali bahwa sebagai salah satu faktor utama yang sama yang dapat
menyebabkan wabah penyakit kronis, degeneratif dan kanker di seluruh dunia
adalah akibat timbunan komponen zat2 bioaktif yang toksik dan karsinigenik yang
terus menerus setiap hari dikonsumsi dari mulai bayi sampai orang dewasa yang
terkandung dalam bahan makanan fungsionel utama, yakni, minyak sayur!.
Jikalau Anda ingin mengamankan
keluarga dari salah satu bentuk ancaman penyakit seperti kardio-vaskuler,
tekanan darah tinggi, stroke, kencing manis, obesitas, over-weight, kanker dan
sebagainya, adalah sangat bijaksana untuk mengambil keputusan sekarang juga
agar Anda menggantikan minyak sayur dengan Minyak Kelapa yang paling aman dan
paling sehat dimuka bumi!.
Kesimpulan dan Saran
Dengan uraian diatas, sekarang
menjadi sangat jelas sekali bahwa diantara berbagai jenis minyak goreng itu ada
perbedaan yang sangat nyata dan mendasar. Dengan demikian, Anda sekeluarga
harus bijaksana memilih dan mengkosumsi minyak goreng jenis mana yang paling
aman dan paling sehat, kalau tidak maka Anda dan anak-cucu Anda akan menjadi
korban terkena salah satu penyakit kronis, degeneratif dan kanker yang sekarang
sedang melanda di seluruh dunia tanpa menganal batas umur, gender dan suku!
Oleh karena itu dengan gesit Denmark sejak 31 Desember 2003 sudah menggunakan
undang - undang pelarangan untuk menjual semua jenis makanan olahan jadi yang
mengandung lebih dari 2% trans fatty acids, baik yang buatan dalam negeri
(Denmark) maupun yang diimpor. Dan undang2 pelarangan ini di Amerika Serikat
akan dilaksanakan mulai tgl. 1 Januari 2006 dan selanjutnya diikuti oleh Kanada
dalam waktu 3-5 tahun mendatang.(Iwan T. Budiarso DVM., M.Sc., Ph.D . APU, Ahli
Terapi Urin dan Minyak Kelapa Bagian Patologi-Anatomi, Fakultas Kedokteran
Universitas Tarumaganara, Jakarta/Idh)
Narasumber : “The Healing Miracle of
Coconut Oil” (2003), dan “Eat Fat Look Thin” (2002), kedua buku ditulis oleh
Dr. Bruce Fife, buku “ Know Your Fats” (2002), tulisan DR.Mary G. Enig, Ph.D.,
Buku2 “Free Radicals Invite Death” (1997) dan “Drugs Do Not Cure Disease”
(1999) tulisan Prof. Yokie Newa, M.D., Ph.D.
_______________________________________________________________
Bentuk Minyak Kelapa
Ada tiga macam bentuk minyak kelapa yang beredar di pasar yakni:
1). RBD-Coconut Oil (minyak kelapa RBD) yang artinya bahwa minyak ini diproses di pabrik dengan diberi bahan kimia untuk memurnikan (Refined=R),., memutihkan (Bleaching=B) dan menghilangkan aroma yang kurang sedap (Deodorised=D). Bahan bakunya adalah kelapa kopra. Kopra demikian biasanya tercemar oleh debu, kotoran, jamur, kuman dsbnya. Maka harus diproses agar minyak yang diperoleh harus bersih, nampak bening, putih dan tidak bau. Minyak kelapa bentuk ini banyak dijual di pasar2 dan super market yang berasal dari pabrik minyak kelapa merek “B”.
_______________________________________________________________
Bentuk Minyak Kelapa
Ada tiga macam bentuk minyak kelapa yang beredar di pasar yakni:
1). RBD-Coconut Oil (minyak kelapa RBD) yang artinya bahwa minyak ini diproses di pabrik dengan diberi bahan kimia untuk memurnikan (Refined=R),., memutihkan (Bleaching=B) dan menghilangkan aroma yang kurang sedap (Deodorised=D). Bahan bakunya adalah kelapa kopra. Kopra demikian biasanya tercemar oleh debu, kotoran, jamur, kuman dsbnya. Maka harus diproses agar minyak yang diperoleh harus bersih, nampak bening, putih dan tidak bau. Minyak kelapa bentuk ini banyak dijual di pasar2 dan super market yang berasal dari pabrik minyak kelapa merek “B”.
2). Traditional Coconut Oil (minyak
kelapa tradisional).yakni buah kelapa segar dihamcurkan atau diparut, lalu
diperas untuk diambil santannya. Santan inilah kemudian dimasak dengan api
kecil sampai minyaknya keluar. Kemudian minyak ini disaring dan dipisahkan dari
ampus (belondo)-nya. Minyak demikian mempunyai aroma yang harum. Belondonya
rasanya gurih dan enak sekali serta dapat dipakai sebagai lauk-pauk. Minyak
demikian masih dapat dibeli di desa2 yang menghasilkan banyak buah kelapa.
3). Virgin Coconut Oil (VCNO)
(Minyak Kelapa murni), minyak ini dihasilkan dengan cara memeras buah kelapa
segar untuk mendapatkan minyak tanpa dimasak. Jadi diproses tanpa pemanasan
seperti pada pembuatan minyak kelapa tradisional. Oleh karena itu minyak ini
juga disebut Cold Expelled Coconut Oil,(CECNO) (minyak kelapa ektrak dingin).
Keuntungan dengan proses ini, minyak yang diperoleh bisa tahan sampai 2 tahun
tanpa menjadi tengik (rancid). Di Amerika Serikat minyak kelapa dapat dibeli di
berbagai Toko Makanan Sehat (Health Foods Stores ) dan swalayan (supermarkets )
dengan nama dagang ”Luaricidin “. dan Virgin Coconut Oil (VCNO atau CECNO) Atau
bisa pesan/ beli melaui internet pada Tropical Traditonal ,Inc. PMB No.120 337
N.Main Street, Wesben, WI 53095, USA. Atau dengan www.tropicaltraditions.com.
Di Indonesia belum dijual secara umum dipasaran, tetapi bisa di dapat pada
Bapak Oei Yam Jiu atau Ibu Grace dengan telpon No.(021) 563-0455 (rumah) dan
(021) 540-1188 (kantor) dan di Klink Medika Holistik, Komplek Golden Plaza,
D-Best Supermarket, Jl: Raya Fatmawati No.15., Jakarta Selatan, ruko D-14 dan
D15, telpon 750-7864 dan 758-18762.
Sumber Devisa Non-Migas Negara
Setiap tahun Pemerintah harus
mengeluarkan uang devisa yang tidak kecil untuk mengimpor berbagai macam jenis
minyak goreng dan minyak beku atau margarin (hydrogenated oils). Minyak dan
margarin demikian disamping membebankan pendapatan negara, juga sebagai sumber
penyebab penyakit . Sehingga Pemerintah harus menanggung membiayai orang-orang
yang sakit dalam bentuk subsidi pembelian obat2an yang mahal yang jumlahnya
tidak sedikit dan subsidi biaya perawatan di rumah-rumah sakit. Padahal kalau
bisa menghindar daripada penyebabnya, maka tidak perlu pengobatan sama sekali.
Sebaliknya kalau Pemerintah
mempunyai political will, bisa menggalakkan kembali para petani kelapa dan
membangun kembali pabrik-pabrik minyak kelapa, maka produksinya bukan saja bisa
memenuhi dan menggantikan semua jenis minyak goreng impor yang beracun juga
dapat menghemat devisa. Sebaliknya kalau bisa diekspor sebagai komoditi yang
unggul akan mendatangkan devisa non-migas yang tidak kecil, karena Indonesia
terkenal sebagai negara agraris yang kaya akan tanaman pohon kelapa dan bisa
membuat minyak kelapa sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar